REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Petani kopi di lereng Gunung Raung, Kabupaten Jember, mengeluhkan harga jual kopi yang kerap berubah dan dinilai mudah dipermainkan tengkulak. Kondisi ini membuat petani tidak memiliki daya tawar dan terpaksa menjual hasil panen meski harga turun drastis dalam waktu singkat.
Di Desa Sumberbulus, Kecamatan Ledokombo, para petani menghadapi banyak tantangan mulai dari cuaca ekstrem, mahalnya harga pupuk, hingga fluktuasi harga jual yang tajam. Zaenal Hosen, petani kopi robusta yang telah menggarap lahan di kawasan Perhutani selama 13 tahun, mencatat produksi kopinya bisa mencapai 150 ton ose (biji kering) setiap tahun. Namun tingginya produktivitas tersebut tidak sebanding dengan biaya pupuk yang mencapai Rp300–400 ribu per kuintal.
Lebih jauh, ia menyebut harga kopi dapat berubah hanya dalam hitungan hari. Saat ini kopi ose dijual ke pengepul lokal dengan kisaran harga Rp70–75 ribu per kilogram, namun dalam satu hari harga bisa anjlok hingga Rp5 ribu per kilogram. Hal itu membuat petani tak punya banyak pilihan selain menjual meski keuntungan menipis, sebab kebutuhan ekonomi terus berjalan.
“Kalau bisa pupuk dan jalur penjualannya lebih diperhatikan. Pemerintah Jember sebaiknya punya sistem distribusi sendiri supaya harga kopi tidak mudah dipermainkan tengkulak. Kemarin harga Rp70 ribu, sehari setelahnya turun jadi Rp65 ribu. Turunnya cepat sekali, sementara kami tetap harus menjual karena ada kebutuhan,” ujar Zaenal.
Petani berharap pemerintah daerah dapat turun tangan, khususnya dalam penyaluran pupuk subsidi dan pembentukan distribusi pasar yang lebih transparan. Dengan demikian harga di tingkat petani bisa lebih stabil dan tidak lagi bergantung pada permainan tengkulak di lapangan.
Meski menghadapi tantangan besar, petani di lereng Raung tetap menjaga kualitas panen dengan hanya memetik buah kopi dalam kondisi matang penuh, didominasi warna merah segar.
Reporter: Anas H
Editor: Suyono
