REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Pemuda Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, sukses menyulap limbah batok kelapa menjadi produk herbal bernilai tinggi dan berstandar internasional. Inovasi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi solusi sosial untuk menekan angka perantauan hingga stunting di desa setempat.
Usaha rintisan milik Andriyono di Desa Kemiri kini menjadi sumber mata pencaharian baru bagi pemuda lokal. Dirintis sejak lima tahun lalu, usaha mikro kecil menengah (UMKM) ini mengolah limbah tempurung kelapa yang sebelumnya tak terpakai menjadi produk bernilai guna, seperti minyak atsiri dan asap cair.
Dari hasil pengolahan tersebut, sedikitnya 32 varian produk berhasil dihasilkan, mulai dari perlengkapan rumah tangga seperti sabun dan antiseptik, hingga produk obat-obatan herbal. Proses pengolahan dilakukan melalui destilasi selama tiga hari hingga mencapai standar food grade, kemudian dipadukan dengan ekstrak kunyit dan laos untuk menghasilkan antiseptik alami.
Koordinator Produksi, Andriyono, menjelaskan bahwa bahan baku utama berasal dari petani kelapa di sekitar desa, sehingga memberikan efek ekonomi berantai bagi masyarakat.
“Dalam metodenya jadi banyak. Kalau bahan materialnya ada dua, yang pertama asap cair dipakai untuk antiseptik buat hewan dan manusia, lalu yang kedua minyak atsiri yang bahan bakunya kita ambil dari petani-petani sekitar,” jelas Andriyono.
Ia menambahkan, usaha ini lahir dari kegelisahan melihat banyak pemuda desa yang memilih merantau ke luar daerah.
“Segala prioritas sebenarnya sebagai alternatif supaya anak-anak muda tidak memilih merantau. Kenapa kita tidak bikin pekerjaan sendiri di tempat kita,” imbuhnya.
Potensi pasar produk olahan limbah batok kelapa ini terbilang besar. Sekitar 80 persen hasil produksi dialokasikan untuk memenuhi permintaan ekspor ke luar negeri, sementara sisanya dipasarkan di dalam negeri.
Di bawah naungan Koperasi Pemuda Kemiri Makmur yang dipimpin Muhammad Salim, usaha ini menjadi wadah sekaligus motivasi bagi pemuda desa untuk membangun kampung halamannya sendiri tanpa harus pergi jauh merantau.
Ketua Koperasi Pemuda Kemiri, Muhammad Salim, menyebut mayoritas pemuda di desanya sebelumnya bekerja di luar daerah, bahkan hingga ke luar negeri.
“Umumnya teman-teman di sini hampir 80 persen adalah perantau, ke Bali, Surabaya, Jakarta, bahkan ada yang ke Malaysia. Dari situ timbul pemikiran kami, kalau ada kegiatan produktif di desa yang dikelola pemuda, hasilnya akan signifikan untuk pemuda,” ujar Salim.
Ia mengungkapkan, gagasan membangun usaha bersama ini telah lama direncanakan, meski baru terealisasi tahun ini.
“Sebenarnya mimpi ini sudah tiga tahun lalu, baru terealisasi tahun ini. Karena rata-rata masyarakat memaknai nafkah itu hanya sekadar uang saja, padahal secara agama nafkah itu mencakup finansial, biologis, dan pendidikan,” tuturnya.
Selain bergerak di sektor industri, koperasi ini juga aktif menjalankan misi sosial dengan memberdayakan perempuan terdampak pernikahan dini. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah nyata untuk menekan angka perceraian dan stunting di Desa Kemiri.
Dengan semangat gotong royong, pemuda Desa Kemiri membuktikan bahwa limbah dapat menjadi berkah, sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Reporter: Anas H
Editor: Suyono
