REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember terus mematangkan kesiapan menghadapi potensi bencana. Melalui program School and Community Resilience (SCR), PMI Jember bekerja sama dengan Japanese Red Cross Society (JRCS) menggelar pelatihan Manajemen Tanggap Darurat (MTD) dan operasional Posko, Jumat (9/1/2026).
Pelatihan ini diikuti oleh jajaran pengurus PMI, pegawai, relawan, hingga anggota SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan organisasi dalam merespons kondisi darurat secara cepat dan terkoordinasi.
Perwakilan JRCS Pusat, Nodoka, bersama Delegasi JRCS untuk Indonesia, Teuku Awaludin, hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Nodoka mengaku senang dapat kembali ke Jember untuk berbagi pengalaman, khususnya terkait pengelolaan manajemen tanggap darurat yang dinilai krusial dalam penanganan bencana.
Ia menyebutkan, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga akan ditutup dengan simulasi penanganan darurat agar seluruh peserta memahami alur dan tahapan respons bencana secara menyeluruh.
Sementara itu, Teuku Awaludin menjelaskan bahwa program SCR diarahkan untuk memperkuat layanan PMI hingga ke tingkat desa dan sekolah. Menurutnya, penyegaran pengetahuan menjadi hal penting agar kesiapsiagaan tidak menurun seiring pergantian personel.
“Pengalaman besar seperti tsunami Aceh memang sudah lama berlalu, tetapi jika pengetahuan tidak terus diperbarui, kesiapan bisa hilang. Karena itu, pelatihan ini menyasar pengurus, relawan, hingga masyarakat,” ujarnya.
Awaludin menambahkan, kesiapan logistik dan aktivasi Posko merupakan faktor kunci dalam mewujudkan target Ketua PMI Pusat, yakni kehadiran PMI di lokasi bencana dalam waktu enam jam. Ia mencontohkan keberhasilan PMI Sukabumi yang mampu merespons banjir bandang secara efektif berkat penerapan manajemen tanggap darurat yang baik.
Menurutnya, ketangguhan harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari masyarakat, sekolah, hingga organisasi PMI itu sendiri. Oleh karena itu, simulasi dan pembiasaan dinilai penting agar sistem manajemen Posko dapat berjalan optimal saat bencana terjadi.
Wakil Ketua PMI Kabupaten Jember, Aep Ganda Permana, menyambut positif dukungan penuh dari Palang Merah Jepang. Ia berharap pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun budaya siaga bencana di Jember.
“Wilayah Jember memiliki potensi bencana yang beragam, mulai dari banjir hingga ancaman megathrust. Dengan pelatihan ini, kami berharap seluruh unsur PMI memiliki persepsi dan langkah yang sama saat menghadapi situasi darurat,” pungkasnya.
Reporter: Tim Liputan
