REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Anjloknya harga tomat di tingkat petani membuat puluhan hektare lahan tomat di lereng Gunung Raung, Kabupaten Jember, dibiarkan membusuk meski telah memasuki masa panen. Petani memilih tidak memanen karena hasil penjualan dinilai tidak mampu menutup biaya operasional.
Pantauan di Desa Cumedak, Kecamatan Sumberjambe, Jember, puluhan hektare tanaman tomat milik petani tampak mati dan buahnya membusuk di lahan. Kondisi ini terjadi akibat harga tomat di tingkat petani yang saat ini hanya berkisar Rp500 per kilogram.
Harga tersebut jauh dari harga normal yang sebelumnya sempat menyentuh Rp5.000 per kilogram. Dengan harga jual yang sangat rendah, petani menilai memanen tomat justru akan menambah kerugian karena harus menanggung biaya tanam, pemupukan, hingga ongkos buruh petik.
“Harganya sekarang murah, cuma Rp500. Jadi mau panen malas karena harganya tidak seimbang dengan biaya. Kalau sudah busuk ya dibersihkan saja dan dibiarkan rusak,” ujar salah seorang petani di Desa Cumedak.
Petani juga mengeluhkan tingginya harga pupuk yang semakin memperberat biaya produksi. Dengan kondisi tersebut, panen hanya bisa dilakukan jika dikerjakan sendiri tanpa menggunakan tenaga buruh.
“Sekarang harga pupuk tinggi. Kalau harga tomat cuma Rp500, ya harus panen sendiri, tidak usah pakai orang,” tambahnya.
Di Desa Cumedak sendiri, tercatat sekitar 60 hingga 70 hektare lahan tomat tidak dipanen oleh pemiliknya akibat anjloknya harga di pasaran. Padahal, harga tomat sempat mengalami kenaikan hingga Rp5.000 per kilogram selama tiga hari, sebelum kembali turun dan bertahan di angka Rp500 per kilogram hingga saat ini.
Para petani berharap adanya perhatian dan langkah dari pemerintah untuk menstabilkan harga komoditas pertanian, agar kerugian serupa tidak terus berulang dan petani tidak semakin terpuruk.
Reporter: Suyono
