REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Banjir luapan Sungai Bedadung yang terjadi Kamis malam lalu di Kecamatan Rambipuji, Jember, menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah terdampak. Air sumur warga berubah keruh dan bercampur lumpur sehingga tidak lagi bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Minggu siang, tim Water, Sanitation and Hygiene (WASH) dari Palang Merah Indonesia Kabupaten Jember diterjunkan ke Dusun Krajan, Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji. Sebanyak tujuh personel dikerahkan dengan membawa dua mesin penyedot air untuk melakukan normalisasi sumur warga.
Sedikitnya enam sumur menjadi target pengurasan pada hari tersebut. Proses pembersihan tidak bisa dilakukan hanya sekali penyedotan, melainkan harus hingga tiga kali agar air kembali jernih.
Holifah, salah satu warga terdampak, mengatakan air banjir sempat masuk hingga setinggi lutut dan menutup sumurnya.
“Air masuk sampai selutut dan menutup sumur. Sumber air kemasukan lumpur sehingga airnya keruh. Untuk sementara kami hanya mengandalkan sisa air di tandon, tinggal dua timba ukuran cat yang bisa dipakai,” ujarnya.
Akibat kondisi itu, warga terpaksa menghemat sisa air dan bergantung pada sumur tetangga yang tidak terdampak banjir.
Pengurus PMI Kabupaten Jember, Narto, menjelaskan normalisasi dilakukan atas permintaan warga karena banyak sumur belum kembali bersih meski banjir telah surut.
“Kami menerima permintaan warga untuk menguras sumur yang keruh akibat banjir. Hari ini ada enam sumur yang ditargetkan selesai dikuras. Rata-rata satu sumur tidak cukup satu kali penyedotan, tetapi hingga tiga kali sampai benar-benar bersih,” jelasnya.
Selain normalisasi sumur, PMI Jember juga menyiagakan tandon air bersih berkapasitas 1.200 liter di empat titik terdampak untuk memenuhi kebutuhan air bersih sementara.
Banjir akibat luapan sungai dan tanggul yang jebol tersebut menyisakan kerusakan rumah serta mengganggu akses jalan permukiman warga yang tergerus arus air.
Reporter: Suyono
