REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Kelangkaan dan mahalnya gas elpiji 3 kilogram di sejumlah wilayah Kabupaten Jember memaksa warga kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak kebutuhan sehari-hari.
Di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, asap tipis terlihat mengepul dari dapur rumah Subatin. Ia kini kembali menggunakan tungku tradisional karena kesulitan mendapatkan elpiji sejak bulan Ramadan lalu.
Jika pun tersedia, harga elpiji melonjak jauh di atas harga normal, bahkan mencapai Rp30 ribu per tabung. Kondisi ini membuat Subatin memilih beralih ke kayu bakar demi menekan pengeluaran rumah tangga.
Untuk memenuhi kebutuhan memasak, ia mengumpulkan ranting kayu dari kebun di sekitar rumahnya. Meski lebih hemat, cara ini diakuinya lebih sulit dan memakan waktu.
“Sekarang pakai kayu bakar karena gas sulit didapat dan mahal sampai Rp30 ribu, jadi tidak beli. Sejak bulan puasa sudah pakai kayu. Kayunya cari di kebun, tapi menyalakan api agak susah, harus pakai kertas dan plastik,” ujar Subatin.
Kondisi serupa juga dialami Sumartini, warga setempat. Ia mengaku kesulitan mendapatkan elpiji dengan harga normal sejak usai Lebaran.
Meski sempat memperoleh satu tabung dengan harga Rp25 ribu, namun tidak bertahan lama. Akhirnya, ia pun mengikuti langkah warga lain dengan kembali menggunakan kayu bakar.
“Sejak Lebaran susah cari gas. Kalau pun ada, harganya Rp30 ribu. Saya sempat tawar Rp25 ribu dan dapat satu, tapi akhirnya pakai kayu bakar seperti warga lainnya,” kata Sumartini.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas, terutama dalam mengawasi distribusi elpiji 3 kilogram agar tetap tersedia dan dijual sesuai harga eceran tertinggi.
Reporter: Tim Liputan
