REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Krisis lingkungan tak hanya berdampak pada alam, tetapi juga menggerus praktik budaya masyarakat. Menjawab kondisi tersebut, Rumah Budaya Nara Bestari menggelar Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan (PEKA), Sabtu (28/2/2026), di salah satu aula hotel di Kecamatan Sumbersari, Jember.

Sarasehan ekologi budaya menjadi gong pembuka Festival PEKA 2026 bertajuk Cahaya Ramadhan. Kegiatan ini melibatkan akademisi, seniman, komunitas lingkungan, hingga pemangku kebijakan sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor berbasis masyarakat.

Festival yang diinisiasi Rumah Budaya Nara Bestari ini menjadi contoh gerakan pemajuan kebudayaan berbasis ekologi yang memulai perubahan dari pekarangan rumah. Program tersebut bahkan dinilai unggul secara metodologis oleh Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana 2025.

Pendiri Rumah Budaya Nara Bestari, Poernomo, menjelaskan bahwa sarasehan ini merupakan wujud kepedulian bersama untuk membangun kesadaran ekologi budaya dari ruang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Kami bersama akademisi, seniman, dan para pemangku kebijakan menggelar sarasehan ekologi budaya sebagai wujud upaya bersama lintas komunitas berbasis masyarakat. Tujuannya agar kita peduli dan berpartisipasi, berjalan beriringan untuk ekologi budaya. Dan ini kita mulai dari pekarangan kita sendiri sebagai inisiatif untuk mensosialisasikan ekologi budaya kepada masyarakat,” ujarnya.

Dalam gerakan ini, kunang-kunang dijadikan bioindikator budaya. Keberadaannya dinilai sebagai penanda kualitas lingkungan dan keseimbangan ekosistem.

Sementara itu, narasumber sarasehan, Dedi Siswanto, menekankan pentingnya membangun kembali memori kolektif masyarakat tentang harmoni dengan alam.

“Kita perlu membangun memori kolektif, mengingat masa ketika kunang-kunang masih banyak terlihat di kampung. Setelah dikaji secara ilmiah, hilangnya kunang-kunang salah satunya disebabkan oleh keserakahan manusia,” katanya.

Ia menambahkan, pelibatan pelaku budaya dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi habitat dan nilai-nilai kearifan lokal.

“Leluhur kita berinteraksi dengan alam bukan sekadar untuk memiliki, tetapi membangun relasi. Karena itu, ada aturan-aturan seperti tidak berburu saat hewan berkembang biak atau pada masa tertentu, agar keseimbangan tetap terjaga. Kampung yang lestari menjadi penanda alam yang sehat,” jelasnya.

Festival PEKA merupakan puncak dari proses berkelanjutan, mulai dari pengelolaan pekarangan sadar lingkungan, pengurangan polusi cahaya, hingga penguatan praktik budaya lokal. Melalui kegiatan ini, integrasi kebudayaan dan lingkungan hidup diharapkan terus diperkuat secara berkelanjutan.

Reporter: Suyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *