[07/04/2026 21.51] Mbak Ageng Anyar: [7/4, 21.21] ageng widya: Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik di Jember, PKL Kelimpungan

REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Dampak konflik di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan hingga ke daerah. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, harga berbagai jenis plastik dilaporkan mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai 45 persen dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan tersebut terjadi pada sejumlah produk plastik yang umum digunakan masyarakat, seperti gelas minuman, kantong plastik, hingga wadah makanan. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga gelas minuman yang sebelumnya Rp9.000 per pak kini naik menjadi Rp12.000 per pak.

Tidak hanya itu, harga styrofoam juga meningkat dari Rp26.000 menjadi Rp42.000 per pak. Sementara itu, harga kotak nasi naik dari Rp65.000 menjadi Rp75.000 per pak.

Pedagang menyebutkan bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh kelangkaan bahan baku biji plastik yang masih bergantung pada impor, termasuk dari wilayah Timur Tengah. Kondisi tersebut berdampak pada distribusi dan ketersediaan barang di pasaran.

Intan Kusumawati, pedagang plastik di Jember, mengatakan kenaikan harga telah terjadi sejak beberapa pekan terakhir dan berdampak pada penurunan jumlah penjualan.

“Kenaikan ini sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Harga gelas minuman dari Rp9.000 per pak kini naik menjadi Rp12.000 per pak, styrofoam dari Rp26.000 menjadi Rp42.000 per pak, dan kotak nasi dari Rp65.000 menjadi Rp75.000 per pak. Secara pendapatan belum terlalu berpengaruh, tetapi dari sisi kuantitas penjualan mengalami penurunan drastis dan stok berpotensi menipis,” ujarnya.

Dampak kenaikan harga plastik ini juga dirasakan oleh para pedagang kaki lima (PKL) yang menggunakan plastik sebagai kebutuhan utama dalam berjualan.

Siti Aisyah, pedagang minuman keliling, mengaku terpaksa menanggung kenaikan biaya produksi tanpa berani menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.

“Saya berjualan kopi keliling, es teh, dan minuman lainnya. Yang mengalami kenaikan adalah kantong plastik, gelas, dan hampir semua jenis kemasan. Akibatnya, keuntungan jelas berkurang. Namun, saya tidak berani menaikkan harga karena khawatir pelanggan akan beralih,” katanya.

Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berharap harga plastik dapat segera stabil agar usaha mereka tetap bertahan di tengah meningkatnya biaya produksi.

Reporter: Tim Liputan
[7/4, 21.24] ageng widya: Harga Plastik Naik, Perajin Tempe di Jember Beralih ke Daun Pisang

REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Kenaikan harga plastik pembungkus mendorong perajin tempe di Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk berinovasi. Salah satunya dengan kembali menggunakan daun pisang sebagai alternatif kemasan yang lebih hemat dan ramah lingkungan.

Lonjakan harga plastik yang dipicu kenaikan bahan baku, termasuk dampak konflik di Timur Tengah, mulai dirasakan para perajin. Di Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, harga plastik pembungkus yang sebelumnya sekitar Rp11.000 per pak kini naik menjadi Rp15.000 per pak.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi perajin tempe semakin meningkat. Untuk menyiasatinya, sejumlah perajin mulai beralih menggunakan daun pisang sebagai pembungkus utama.

Selain dinilai lebih ekonomis, penggunaan daun pisang juga memberikan nilai tambah pada produk tempe, terutama dari segi cita rasa dan aroma.

Rahmatullah, perajin tempe di Lingkungan Kedung Piring, mengaku penggunaan daun pisang mampu menekan biaya operasional harian.

“Kami kembali menggunakan daun seperti dulu karena lebih hemat. Kalau memakai plastik, biaya per hari bisa mencapai Rp30.000, sedangkan jika menggunakan daun bisa untuk dua hari. Selain itu, tempe yang dibungkus daun lebih diminati. Rasanya dinilai lebih enak dan aromanya lebih gurih,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun proses pembungkusan dengan daun pisang lebih manual dan membutuhkan waktu lebih lama, langkah tersebut menjadi solusi paling realistis di tengah kenaikan harga bahan baku.


Para perajin tempe berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku, termasuk kedelai dan plastik, agar usaha mereka tetap bertahan dan produk tempe tetap terjangkau bagi masyarakat.

Reporter: Tim Liputan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *