REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Museum Huruf Jember menjadi salah satu destinasi edukasi paling unik di Indonesia. Berlokasi di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Tegal Boto, museum ini dikenal sebagai museum huruf pertama di Indonesia, bahkan sempat menjadi satu-satunya museum di dunia yang secara khusus menampilkan sejarah aksara dari berbagai peradaban.
Di dalam museum, pengunjung dapat melihat setidaknya 22 jenis huruf kuno, mulai dari aksara Jawa, huruf Cina, hingga aksara Ibrani. Seluruh koleksi ditata dalam bentuk pajangan otentik yang menggambarkan evolusi tulisan dari zaman ke zaman, menjadikannya ruang belajar sejarah yang hidup dan mudah dipahami.
Keunikan koleksi tersebut membuat banyak pengunjung terkesan, termasuk mereka yang memiliki ketertarikan pada dunia aksara.
“Kebetulan saya belajar literasi aksara dan berbagai bahasa. Di Indonesia saja banyak bahasa daerah yang belum banyak dikenal masyarakat. Jadi melihat koleksi di sini sangat menarik karena bisa belajar aksara dari berbagai wilayah,” ujar Merinda Haris, salah satu pengunjung.
Tak hanya wisatawan lokal, museum ini juga menarik perhatian pengunjung dari mancanegara. Wisatawan asal Asia hingga Eropa kerap menjadikan Museum Huruf Jember sebagai tujuan wisata edukasi karena keunikannya yang jarang ditemui di negara lain.
Pengelola Museum Huruf, Dodik Agus, menjelaskan bahwa museum ini berdiri sejak tahun 2017 dan menjadi pelopor museum berbasis aksara.
“Museum Huruf berdiri pada 30 Agustus 2017. Kami menemukan bahwa belum pernah ada museum khusus aksara di dunia. Ada memang satu tempat serupa di sebuah gereja Katolik di North Carolina, tapi bukan museum khusus seperti ini. Dari situ kami yakin museum ini menjadi yang pertama dan satu-satunya,” jelasnya.
Untuk masuk ke museum, pengunjung hanya perlu membayar tiket seharga Rp5.000. Museum buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00, sehingga memberikan kesempatan lebih luas bagi pengunjung untuk menikmati koleksi yang ditampilkan.
Museum Huruf Jember terus menjadi ruang edukasi yang menarik sekaligus melestarikan sejarah panjang aksara dari berbagai belahan dunia maupun Nusantara.
Reporter: Tim Liputan
