REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Jember memanfaatkan momentum bulan Ramadan untuk mengajarkan baca tulis Al-Qur’an menggunakan huruf braille kepada para penyandang disabilitas netra. Melalui pengabdian puluhan tahun di dunia pendidikan, ia berupaya mencetak generasi Qur’ani meski memiliki keterbatasan penglihatan.

Guru tersebut adalah Rachman Hadi, staf pengajar di SLB Negeri Jember, Kecamatan Patrang. Meski juga merupakan penyandang tunanetra, ia tetap aktif membimbing para siswa untuk mempelajari Al-Qur’an melalui huruf braille.

Sejak menekuni dunia pendidikan pada 1993, Rachman membuka kelas mengaji khusus bagi penyandang disabilitas netra secara gratis, tanpa memungut biaya. Dengan sabar, ia membimbing para murid mengenal huruf hijaiyah melalui rabaan titik-titik timbul pada Al-Qur’an braille, sekaligus memperbaiki bacaan sesuai kaidah tajwid.

Menurut Rachman, belajar membaca Al-Qur’an merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam, termasuk bagi penyandang tunanetra.

“Semua umat Islam wajib bisa membaca Al-Qur’an, tidak terkecuali tunanetra. Sekarang dengan adanya huruf braille semuanya bisa belajar membaca. Kesulitannya biasanya di awal, karena huruf braille ada yang terasa terbalik-balik, tetapi kalau sudah terbiasa dan hafal, lama-lama akan mudah,” ujarnya.

Dalam perjalanannya, keterbatasan jumlah Al-Qur’an braille menjadi tantangan tersendiri karena harganya relatif mahal dan tidak mudah ditemukan. Meski begitu, ia bersyukur karena dukungan wakaf Al-Qur’an braille dari berbagai pihak terus mengalir untuk membantu proses belajar para siswa.

Salah satu muridnya, Muhammad Bintang Arozzi, mengaku sangat terbantu dengan adanya Al-Qur’an braille. Ia bahkan telah beberapa kali khatam membaca Al-Qur’an sejak mulai belajar.

“Alhamdulillah saya sudah belajar sejak lama, dan sejak tahun 2022 sudah beberapa kali khatam. Di rumah sekarang sudah sampai juz lima. Awalnya memang ada kesulitan saat belajar, tetapi sekarang sudah tidak. Saya sangat senang dengan adanya huruf braille karena bisa ikut tadarus di mushola dan masjid, jadi tidak hanya orang yang bisa melihat saja yang membaca Al-Qur’an,” ungkapnya.

Selain mengajarkan Al-Qur’an, Rachman juga mengajak para muridnya berlatih kesenian hadrah sebagai bentuk kecintaan terhadap seni Islami selama bulan Ramadan.

Bagi pria berusia 56 tahun tersebut, keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk menjauh dari ibadah. Ia ingin memastikan para penyandang tunanetra tetap memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan menikmati lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Reporter: Anas H
Editor: Suyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *