REDAKSIFTV.COM, Jember – Aksi kepedulian ditunjukkan sejumlah organisasi pemuda di Jember, Jawa Timur, dengan menghadirkan perahu karet bagi siswa sekolah dasar yang selama ini harus menyeberangi sungai menggunakan rakit sederhana.
Langkah ini dilakukan setelah jembatan penghubung di Dusun Darungan, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, putus akibat diterjang banjir. Kondisi tersebut membuat akses pendidikan dan aktivitas perekonomian warga terganggu.
Selama berbulan-bulan, para siswa terpaksa menyeberangi Sungai Bedadung menggunakan rakit bambu dengan risiko tinggi. Melihat kondisi tersebut, organisasi pemuda Mapalus bersama Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Jember menyalurkan bantuan perahu karet.
Sebelum digunakan, perahu karet terlebih dahulu diuji kelayakannya untuk memastikan keamanan saat mengangkut siswa. Hasil uji coba menunjukkan bahwa perahu karet dinilai lebih aman dibandingkan rakit bambu, terutama karena dilengkapi peralatan keselamatan seperti pelampung dan helm.
Wakil Ketua BPD sekaligus perwakilan Komunitas Jubung Peduli, Dimas Krisdianto, menjelaskan bahwa penggunaan perahu ini merupakan hasil inisiatif bersama berbagai pihak.
“Selama ini anak-anak Desa Jubung kalau mau sekolah harus memutar cukup jauh. Kemarin kami berdiskusi dan melihat potensi dari teman-teman Mapala dan FAJI, sehingga kami meminjam perahu untuk simulasi penyeberangan menggunakan perahu karet. Alhamdulillah hari ini sudah terlaksana dan sangat memungkinkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dari hasil uji coba, perahu karet terbukti aman digunakan meski tetap harus memperhatikan standar keselamatan.
“Tadi sudah beberapa kali dilakukan penyeberangan, menggunakan dayung dan juga tali. Hasilnya sangat aman, tetapi tetap harus memperhatikan kelengkapan keselamatan seperti dayung, helm, dan pelampung,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Jubung, Bisma Perdana, menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang telah membantu menyediakan sarana penyeberangan yang lebih aman bagi warga.
“Kondisi di Dusun Darungan ini membuat masyarakat kesulitan beraktivitas karena jembatan putus dan belum dibangun kembali. Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang peduli dan meminjamkan perahu sebagai alat penyeberangan yang lebih aman,” katanya.
Menurutnya, penggunaan perahu karet menjadi solusi darurat mengingat proses pembangunan jembatan membutuhkan waktu cukup lama.
“Pembangunan jembatan tentu membutuhkan waktu, bisa sampai enam bulan atau lebih. Sementara aktivitas warga tidak bisa ditunda, sehingga langkah ini diambil agar masyarakat tetap bisa beraktivitas tanpa hambatan,” jelasnya.
Ke depan, relawan penyeberangan juga akan dibekali pelatihan khusus guna memastikan proses penyeberangan berjalan aman dan terkendali.
Diharapkan, keberadaan perahu karet ini dapat menjadi solusi sementara hingga jembatan penghubung kembali dibangun dan dapat digunakan seperti semula.
Reporter: Suyono
